BLOG BELAJAR KELAS XI TP 2 SMKN 53 JAKARTA
Selasa, 18 Juli 2017
MODUL
PENGELASAN DAN
PEMOTONGAN DENGAN PANAS
( Welding and Thermal Cutting )
(kode : tlbm-001)

DIGUNAKAN
UNTUK LINGKUNGAN SENDIRI
OLeh :
drs. h.
eddy hasanuddin, mt.
nip.
196109211986031009
smk negeri 53 jakarta
jl. flamboyan no. 53 cengkareng barat cengkareng – jakarta barat 11730.
2015
HALAMAN PENGESAHAN
Modul Mata Diklat Teknik Las Busur Manual dengan materi Pengelasan dan
Pemotongan dengan Panas ini telah diperiksa
dan disahkan untuk dipakai pada Kompetensi Keahlian Teknik Pengelasan di
Wilayah Provinsi DKI Jakarta.
Oleh :
Nama : Drs. H.
Eddy Hasanuddin
NIP. : 19610921
198603 1 009
Pangkat/Golongan : Pembina/IV.a
Unit
Kerja : SMK
Negeri 53 Jakarta
Jakarta,
17 Juli 2016
Didokumentasikan
di Kepala Sekolah,
Perpustakaan
SMK Negeri 53 Jakarta,
Kepala
Perpustakaan,
Drs. Dedy
Novresly Drs. Caca Sunarsa, M. Pd.
NIP. 196611061995121002 NIP. 198306071989031009
ii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT. yang modul Teknik Las Busur Manual (TLBM-000) untuk kelas XI Kompetensi Keahlian Teknik
Pengelasan ini dapat selesai seperti yang pembaca lihat sekarang ini yang
merupakan revisi/perbaikan dari Modul Teknik Las Busur Manual Tahun 2015.
Modul ini ddiberikan pada kelas XI Teknik Pengelasan yang dibuat mengacu
kepada Kurikulum 2013, aspek yang ditekankan adalah untuk mencapai Kompetensi
yang disyaratkan untuk dikuasai oleh peserta didik. Sedangkan materi yang
dibahas adalah Pengelasan dan Pemotongan dengan Panas.
Pada kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terima
kasih kepada :
- Bapak Kepala Drs. H. Muhammad Roji, M. Pd, selaku
Kepala Suku Dinas Dikmen Kota Administrasi Jakarta Barat yang banyak memeberikan
inspirasi kepada penulis untuk mengembangkan diri demi kemajuan dunia
pendidikan, terutama di wilayah Jakarta Barat.
- Drs. Caca
Sunarsa, M. Pd. selaku
Kepala SMK Negeri 53 Jakarta yang telah memberi kesempatan kepada
punulis untuk mengembangkan diri dalam kegiatan kemajuan anak didik
- Bapak Drs.
Dedy Novresly, selaku Kepala Perpustakaan SMK Negeri 53 Jakarta
yang sudah memfasilitasi dokumentasi modul ini
- Ibu Sri
Mujiarti, SE, selaku Kepala Sub Bagian TU SMK Negeri 53 Jakarta
yang telah banyak membantu dalam penulis mewujudkan modul
Teknik Las Busur Manual ini.
- Rekan-rekan
guru dan karyawan yang telah banyak membantu dalam pembuatan modul
Teknik Las Busur Manual ini, baik yang terlibat langsung maupun tidak
sehingga dapat diselesaikan dengan baik
- Serta
anak-anak didik Kompetensi Keahlian Teknik Pengelasan yang telah banyak
memberikan inpirasi dan menjadi sumber tempat pengabdian penulis dalam
mengekpresikan dan mengaktualisikan ilmu tentang Teknik Pengelasan.
Akhir kata penulis mengharafkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun untuk penyempurnaan modul ini di masa-masa yang akan datang, semoga semua apa yang
kita perbuat ini akan dinilai sebagai ibadah kita oleh Allah Yang Maha Berkehendak
dan modul ini akan bermanfaat bagi kemajuan peserta didik yang
sedang mempelajarinya, aamiin.
Jakarta,
17
Juli 2015.
Penulis.
iii
bab
1 PENGANTAR
Selamat Berjumpa di Buku Pedoman ini !
Buku Paket Pembelajaran dan Penilaian ini
menggunakan sistem pelatihan berdasarkan kompetensi untuk mengajarkan
keterampilan ditempat kerja, yakni suatu cara yang secara nasional sudah
disepakati untuk penyampaian keterampilan, sikap dan pengetahuan yang
dibutuhkan dalam suatu proses pembelajaran. Penekanan utamanya adalah tentang
apa yang dapat dilakukan seseorang setelah mengikuti pelatihan. Salah satu
karakteristik yang paling penting dari pelatihan yang berdasarkan kompetensi
adalah penguasaan individu secara aktual di tempat kerja.
Pelatih harus menyusun sesi-sesi
kegiatannya sesuai dengan :
·
kebutuhan peserta pelatihan
·
persyaratan-persyaratan
organisasi
·
waktu yang tersedia untuk
pelatihan
·
situasi pelatihan.
Strategi
pembelajaran dan penilaian yang dipersiapkan
dalam unit ini tidaklah bersifat wajib namun digunakan sebagai pedoman.
Peserta pelatihan didorong untuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman
industri mereka. Contoh-contoh produk industri lokal atau hasil pengembangan
sumber-sumber yang mereka miliki, dapat membantu dalam menyesuaikan materi dan
memastikan relevansi pelatihan.
Persyaratan Minimal Kemampuan Membaca, Menulis
& Berhitung
Untuk melaksanakan pelatihan secara efektif dan agar dapat mencapai
standar kompetensi diperlukan tingkat kemampuan minimal dalam membaca, menulis
dan menghitung berikut:
Kemampuan membaca dan menulis
|
Kemampuan
baca, interpretasi dan membuat teks.
Kemampuan menggabungkan informasi
untuk dapat menafsirkan suatu pengertian
|
Kemampuan menghitung
|
Kemampuan minimal untuk menggunakan matematika
dan simbol teknik, diagram dan terminologi dalam konteks umum dan yang dapat
diprediksi serta dimungkinkan untuk mengkomunikasikan keduanya yaitu antara
matematik dan teknik.
|
Definisi
Seseorang
yang berkeinginan untuk memperoleh kompetensi seharusnya berkenan manamakan
dirinya sebagai peserta latih. Dalam situasi pelatihan, anda dapat ditempatkan
sebagai siswa, pelajar atau sebagai peserta, sehingga seorang pengajar
kompetensi ini adalah sebagai pelatih. Sebaliknya, dalam situasi pelatihan anda
juga dapat ditempatkan sebagai guru, mentor, fasilitator atau sebagai supervisor.
Berapa Lama Mencapai Kompetensi ?
Dalam sistem pelatihan berdasarkan
kompetensi, fokusnya harus tertuju kepada pencapaian suatu
kompeterisi/keahlian, bukan pencapaian pada pemenuhan waktu tertentu; dengan
demikian dimungkinkan peserta pelatihan yang berbeda memerlukan waktu yang
berbeda pula untuk mencapai suatu kompetensi tertentu.
Simbol
Dalam keseluruhan paket pelatihan akan kita lihat
beberapa simbol. Berikut penjelasan
tentang simbol :
Keterangan
|
|
HO
|
Handout (
Pegangan Peserta )
|
OHT
|
Overhead
Transparansi yang dapat digunakan dalam penyampaian materi pelatihan
|
Penilaian
|
Penilaian kompetensi yang harus dikuasai
|
Tugas
|
Tugas / kegiatan atau aktivitas yang harus diselesaikan.
|
Terminologi
Akses dan Keadilan
Mengacu
kepada fakta bahwa pelatihan harus dapat diakses oleh setiap orang tanpa
memandang umur, jenis kelamin, sosial, kultur, agama atau latar belakang
pendidikan.
Penilaian
Proses
formal yang memastikan pelatihan memenuhi standard-standard yang dibutuhkan
oleh industri. Proses ini dilaksanakan oleh seorang penilai yang memenuhi
syarat (cakap dan berkualitas) dalam kerangka kerja yang sudah disetujui secara
Nasional.
Penilai
Seseorang
yang telah diakui/ditunjuk oleh industri untuk menilai/menguji para tenaga
kerja di suatu area tertentu.
Kompeten
Mampu
melakukan pekerjaan dan memiliki keterampilan, pengetahuan dan sikap yang
diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan secara efektif ditempat kerja serta
sesuai dengan standard yang sudah ditetapkan.
Pelatihan
Berdasarkan Kompetensi
Pelatihan
yang berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menguasai suatu kompetensi/
keahlian secara terukur dan mengacu pada standard yang sudah ditetapkan.
Aspek Penting Penilaian
Menerangkan
fokus penilaian dan poin-poin utama yang mendasari suatu penilaian.
Konteks Penilaian
Menetapkan
dimana, bagaimana dan dengan metode apa penilaian akan dilaksanakan.
Elemen Kompetensi
Elemen
atau Sub-Kompetensi adalah keterampilan-keterampilan yang membangun suatu unit
kompetensi.
Acuan Penilaian
Acuan
penilaian adalah garis pedoman tentang bagaimana sebuah unit kompetensi harus
dinilai.
Adil
Tidak
merugikan para peserta tertentu.
Fleksibel
Tidak
ada pendekatan tunggal terhadap penyampaian dan penilaian unjuk kerja dalam
sistem pelatihan berdasarkan kompetensi.
Penilaian Formatif
Kegiatan
penilaian berskala kecil yang dilakukan selama pelatihan, yaitu untuk membantu
dalam memastikan bahwa pelajaran dilaksanakan secara baik dan adanya umpan
balik kepada peserta tentang kemajuan yang mereka capai.
Kompetensi Kunci
Kompetensi
yang menopang seluruh unjuk kerja dalam suatu pekerjaan. Ini meliputi: mengumpulkan, menganalisis, mengorganisasikan
dan mengkomunikasikan ide-ide dan informasi, merencanakan dan mengorganisasikan
aktifitas, bekerja dengan orang lain dalam sebuah tim, memecahkan masalah
penggunaan teknologi, menggunakan ide-ide teknik-matematis .
Kompetensi-kompetensi
ini digolongkan ke dalam tingkat yang
berbeda sebagai berikut:
Tingkat kemampuan yang harus ditunjukkan dalam menguasai kompetensi ini
|
|
Tingkat
|
Karakteristik
|
1
|
Tugas-tugas rutin dalam
prosedur sudah tercapai dan secara periodik kemajuannya diperiksa oleh
supervisor.
|
2
|
Tugas-tugas yang Iebih
luas dan lebih kompleks dengan peningkatan kemampuan diri untuk menangani
pekerjaan secara otonomi. Supervisor melakukan pengecekan-pengecekan atas
penyelesaian pekerjaan.
|
3
|
Bertanggung jawab atas
aktifitas-aktifitas yang kompleks dan non-rutin yang diarahkan dan
bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain.
|
Strategi Penyajian
Strategi panyajian adalah
dengan menyediakan informasi yang diperlukan tentang bagaimana melaksanakan
pelatihan berdasarkan program yang dilaksanakan di tempat kerja dan/atau di
tempat pelatihan/ organisasi yang bersangkutan.
Keterkaitan dengan Unit Lain
Menerangkan peran suatu
unit dan tempatnya dalam susunan kompetensi yang ditetapkan oleh industri. Hal ini juga memberikan pedoman tentang
unit lain yang dapat dinilai bersama.
Standar Kompetensi Nasional
Kompetensi-kompetensi
yang sudah disepakati secara nasional dan standar-standar penampilan kerja yang
dijadikan acuan oleh segala fihak dalam melakukan suatu pekerjaan.
Kriteria Unjuk kerja
Kriteria-kriteria
atau patokan yang digunakan untuk menilai apakah seseorang sudah mencapai suatu
kompetensi dalam suatu unit kompetensi.
Variabel
Penjelasan
tentang rincian tempat pelatihan dengan perbedaan konteks yang mungkin
dapat diterapkan pada suatu unit
kompetensi tertentu.
Reliabel
Menggunakan
metode-rnetode dan prosedur-prosedur yang menguatkan terhadap standar
kompetensi dan tingkatannya diinterpretasikan serta diterapkan secara konsisten
kepada seluruh konteks dan seluruh peserta pelatihan.
Valid
Penilà ian
terhadap fakta-fakta dan kriteria unjuk kerja yang sama akan menghasilkan hasil
akhir penilaian yang sama dari penilai yang berbeda.
Pengakuan Kemampuan yang
Dimiliki (RCC- Recognition of Current
Competence)
Pengakuan akan
keterampilan, pengetahuan dan kemampuan sesseorang yang telah dicapainya.
(lihat RPL)
Pengakuan Terhadap Pengalaman Belajar (RPL- Recognition of Prior Learning)
Pengakuan
terhadap hasil belajar sebelum mempelajari suatu unit kompetensi untuk
mendukung pencapaian unit kompetensi tersebut. Hal tersebut biasanya adalah
kompetensi yang berkaitan dengan standar kompetensi industi dan juga berkaitan
dengan pembelajaran dan pelatihan sebelumnya. (lihat RCC)
Penilaian Sumatif
Penilaian
ini dilakukan setetah pelatihan unit kompetensi selesai, yakni untuk memastikan
bahwa peserta pelatihan sudah mencapai kriteria unjuk kerja.
Peserta
Orang
yang menerima / mengikuti pelatihan.
Pelatih
Orang
yang memberikan pelatihan.
Pengetahuan dan Keterampilan Pokok
Definisi
atau uraian tentang keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk mencapai
suatu keahlian/keterampilan pada tingkat yang telah ditetapkan
Deskripsi Unit
Gambaran
umum tentang program pembelajaran/ kompetensi yang hendak dicapai.
bab
2 ARAHAN BAGI pelatih
Peran Pelatih
Salah satu peran anda sebagai pelatih atau guru
adalah memastikan standar pelayanan yang tinggi melalui pelatihan yang efektif.
Untuk memastikan bahwa anda siap bekerja pada
kompetensi ini dengan peserta pelatihan atau siswa, pertimbangkanlah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
·
Seberapa
yakin anda tentang pengetahuan dan ketrampilah anda sendiri yang dibutuhkan
untuk menyampaikan setiap elemen?
·
Apakah
ada informasi atau peraturan baru yang mungkin anda butuhkan untuk diakses
sebelum anda memulai pelatihan?
·
Apakah
anda merasa yakin untuk mendemonstrasikan tugas-tugas praktik?
·
Apakah
anda akan sanggup menerangkan secara jelas tentang pengetahuan pendukung yang dibutuhkan
oleh peserta pelatihan untuk melakukan pekerjaan mereka secara tepat?
·
Apakah
anda menyadari ruang Iingkupan situasi industri dimana kompetensi ini mungkin diterapkan?
·
Apakah
anda menyadari tentang bahasa, kemampuan membaca dan menulis serta keterampilan
memahami dan menggunakan matematika peserta pelatihan yang dibutuhkan untuk
mendemonstrasikan kompetensi dalam
standard kompetensi ini ?
·
Sudahkah
anda pertimbangkan isu-isu yang wajar dan dapat diterima dalam merencanakan penyampaian program pelatihan
ini?
Strategi
Penyajian
Variasi kegiatan pelatihan yang disarankan
untuk penyampaian kompetensi ini meliputi :
·
pengajaran ( tatap muka )
·
tugas-tugas praktik
·
tugas-tugas proyek-proyek
·
studi kasus
·
melalui
media (video, referensi, dll )
·
kerja kelompok
·
bermain peran dan simulasi.
·
kunjungan/ kerja industri
Pelatih harus memilih strategi pelatihan yang Iayak untuk kompetensi
yang sedang diberikan, baik situasi maupun kebutuhan pesertanya. Contohnya,
jika praktik industri atau magang tidak memungkinkan, beragam simulasi,
demonstrasi dan penggunaan multi media
mungkin cukup memadai.
Alat
Bantu yang Dibutuhkan untuk Menyajikan Kompetensi Ini
Ruang kelas atau ruang
belajar memenuhi syarat minimum untuk penyampaian teori kepada peserta
pelatihan, papan tulis, OHP dan kelengkapannya, flip chart dan
kelengkapannya, dan alat-alat lain yang diperlukan.
Peraturan
Perhatikan
peraturan-peraturan atau hukum yang relevan serta panduan yang dapat
mempengaruhi kegiatan anda, dan yakinkan bahwa peserta pelatihan anda mengikutinya.
Sumber-sumber untuk
Mendapatkan Informasi Tambahan
Sumber-sumber
informasi meliputi beberapa kategori berikut ini :
Sumber bacaan yang dapat digunakan :
Judul:
|
Welding and
Thermal Cutting
|
Pengarang:
|
NSW TAFE
|
Penerbit:
|
NSW TAFE
|
Tahun Terbit:
|
1990
|
Judul:
|
Pengoperasian Peralatan Las Oksi
Asetilin
|
Pengarang:
|
Untung
Witjaksono
|
Penerbit:
|
PPPG Teknologi
Bandung
|
Tanggal terbit:
|
1997
|
Judul:
|
Las Busur Manual 1
|
Pengarang:
|
Rizal Sani
|
Penerbit:
|
PPPG Teknologi
Bandung
|
Tahun Terbit:
|
1997
|
Judul:
|
The Procedure Handbook of Arc Welding
|
Pengarang:
|
The Lincoln
Electric Company
|
Penerbit:
|
The Lincoln
Electric Company
|
Tahun Terbit
|
1973
|
bab 3 Standar Kompetensi
Dalam sistem pelatihan, Standar Kompetensi diharapkan dapat menjadi
panduan bagi peserta pelatihan atau
siswa untuk dapat :
·
mengidentifikasikan
apa yang harus dikerjakan peserta pelatihan
·
mengidentifikasikan
apa yang telah dikerjakan peserta pelatihan
·
memeriksa kemajuan peserta
pelatihan
·
meyakinkan bahwa semua elemen (
Sub-Kompetensi ) dan kriteria unjuk kerja telah dimasukkan dalam pelatihan dan
penilaian.
Judul
Unit
Pengelasan dan Pemotongan
dengan Panas (TLBM-001)
Deskripsi Unit
Unit ini merupakan unit
dasar yang bertujuan untuk mempersiapkan seorang teknisi las dan pemotongan
memiliki pengetahuan, keterampilan dasar dan sikap kerja tentang berbagai macam
proses las dan pemotongan dan penerapannya di industri.
Kemampuan Awal
Peserta pelatihan harus telah memiliki
kemampuan awal berikut :
·
Dasar-dasar Fisika
·
Dasar-dasar Kimia
·
Dasar-dasar Matematika
Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja
Sub Kompetensi / Elemen
|
Kriteria Kinerja
|
1.0 Memasang dan membuka
perlengkapan las dan pemotongan panas
|
1.1
Macam-macam
proses las dan pemotong dengan panas diidentifikasi dan sesuai dengan berbagai
aplikasi di industri.
1.2
Proses-proses
dan prosedur-prosedur pengelasan dan pemotongan bahan yang sesuai dapat
ditetapkan.
1.3
Kelengkapan
dan peralatan dipilih secara benar dan dipasang.
|
2.0
Mengoperasikan peralatan las oksi-asetilin ( OAW )
|
2.1. Seluruh prosedur
keselamatan dan kesehatan kerja diamati.
2.2. Proses las
oksi-asetilin dan pengaturan nyala api las diuraikan.
2.3. Pemilihan bahan-bahan
las dan proses pengelasan pada pelat baja karbon posisi di bawah tangan
dilakukan sesuai prosedur operasi yang standar.
|
3.0
Mengoperasikan peralatan pemotongan dengan panas
|
3.1 Seluruh
prosedur keselamatan dan kesehatan kerja diamati.
3.2 Pengaruh pengaturan
nyala api terhadap hasil pemotongan diuraikan.
3.3 Pemotongan
dengan gas/ nyala api pada baja karbon dilakukan sesuai prosedur operasi
yang standar.
|
4.0 Mengoperasikan peralatan las busur manual
(SMAW )
|
4.1 Seluruh
prosedur keselamatan dan kesehatan kerja diamati.
4.2
Proses
las busur manual diuraikan.
4.3
Berbagai
aplikasi las busur manual disebutkan.
4.4
Penebalan permukaan dan pengelasan sambungan sudut (Fillet)
pada baja karbon posisi di bawah tangan dilakukan sesuai prosedur operasi yang standar.
|
Variabel
Unit ini bermaksud memberikan dasar-dasar pengetahuan dan
keterampilan dari beberapa proses pengelasan dan pemotongan dengan gas/ nyala
api yang relavan dengan bidang las dan fabrikasi logam.
a.
Sasarannya adalah segala
macam pekerjaan bengkel pada industri-industri manufaktur di linkungan Pulau
Batam dan Bintan.
b.
Penekanan dari unit ini
adalah hal-hal yang mendasar tentang pengoperasian macam-macam peralatan las
dan pemotongan dengan gas/ nyala api.
c.
Pelatihan dapat dilaksanakan
di bengkel pelatihan atau di industri yang relevan dengan persyaratan ;
·
Tersedia bengkel dengan
kelengkapan peralatan kerja bangku dan ruang guru yang sebaiknya berdekatan
dengan bengkel tersebut.
·
Tersedia alat las oksi
asetilin ( OAW ), las busur manual ( SMAW ), las MIG/MAG dan pemotongan
dengan gas/ nyala api.
·
Tersedia sumber-sumber
belajar dan media pembelajaran.
d.
Permasalahan
keselamatan dan kesehatan kerja yang perlu diperhatikan :
·
Pemakaian
pakaian yang cocok, sepatu kerja, helm las dan/ atau kaca mata pengaman (
bila diperlukan ).
·
Lingkungan
kerja yang sehat dan aman dengan ventilasi dan sistem pengisap udara yang
memadai.
·
Pencahayaan yang cukup.
|
Pengetahuan
dan Keterampilan Pokok
Pokok-pokok pengetahuan dan keterampilan yang harus dinilai
penguasaan dan penampilannya adalah sebagai berikut :
·
Proses
Pengelasan :
- las oksi-asetilin ( OAW )
- las busur manual ( SMAW )
- las MIG/MAG ( GMAW )
- las TIG ( GTAW )
- las busur rendam ( SAW )
- las tahanan
- pemotongan dengan gas/ nyala api
- pemotongan dengan plasma
·
Las oksi-asetilin ( OAW ) :
- peralatan
- proses kerja
- pengaturan nyala api
- penggunaan
- keselamatan dan kesehatan kerja
- aplikasi pengelasan pada posisi di
bawah tangan
·
Pemotongan dengan panas (gas/
nyala api ) :
- peralatan potong
- alat-alat bantu pemotongan
- nozzle
- kesalahan-kesalahan pemotongan
- keselamatan dan kesehatan kerja
- aplikasi :,memotong bentuk dan bevel
·
Las Busur Manual ( SMAW )
- proses kerja
- peralatan
- penggunaan
- keselamatan dan kesehatan kerja
- aplikasi pengelasan pada posisi di
bawah tangan
|
Konteks Penilaian
Unit ini dapat dilakukan penilaiannya oleh lembaga pelatihan,
asosiasi atau industri tempat bekerja. Penilaian seharusnya meliputi
penilaian kemampuan praktik/unjuk kerja dan penilaian pokok-pokok pengetahuan
dengan beberapa metoda penilaian.
|
Aspek
Penting Penilaian
Fokus penilaian unit ini akan tergantung pada kebutuhan sektor
industri yang mencakup dalam program pelatihan, yaitu :
·
Adanya
integrasi antara teori-praktik.
·
Penekanan
pelatihan adalah prosedur-prosedur dan teknik-teknik yang benar.
·
Metode-metode penilain
sebaiknya terdiri dari proses dan hasil.
·
Aplikasi
seharusnya berhubungan dengan kegiatan manufaktur dan perawatan.
|
Keterkaitan dengan Unit Lain
Unit ini merupakan unit dasar yang
membekali pengetahuan dan keterampilan untuk seluruh proses las dan pemotongan
yang akan dipelajari pada tingkat berikutnya. Untuk itu direkomendasikan agar
unit ini dilatihkan / dinilai dalam kaitannya dengan unit lain.
Perlu hati-hati dalam pengembangan
pelatihan untuk memenuhi persyaratan pelatihan unit ini. Untuk pra-pelatihan
kejuruan secara umum, lembaga pelatihan harus menyediakan program pelatihan
yang dapat mencakup semua industri agar tidak terjadi prasangka hanya untuk
satu sektor industri saja. Kondisi unjuk kerja akan membantu memenuhi maksud
ini.. Sedangkan untuk penyelenggaraan pelatihan bagi industri yang khusus,
perlu diupayakan pelatihan khusus juga agar apa yang dibutuhkan industri
tersebut dapat dipenuhi.
Kompetensi Kunci yang akan Didemonstrasikan dalam
Unit Ini
Kompetensi Umum dalam Unit Ini
|
Tingkat
|
Kompetensi Umum dalam Unit Ini
|
Tingkat
|
|||||
Mengumpulkan, Mengelola dan Menganalisa Informasi
|
1
|
Menggunakan Ide-ide dan
Teknik Matematika
|
1
|
|||||
Mengkomunikasikan Ide-ide dan Inforrnasi
|
1
|
Memecahkan Masalah
|
1
|
|||||
Merencanakan
dan Mengorganisir Aktifitas-aktifitas
|
1
|
Menggunakan Teknologi
|
1
|
|||||
Bekerja dengan Orang Lain dan Kelompok
|
1
|
|||||||
Tingkat Kemampuan yang Harus Ditunjukkan dalam
Menguasai Kompetensi ini
Tingkat
|
Karakteristik
|
1
|
Melakukan tugas-tugas rutin
berdasarkan prosedur yang
|
2
|
Melakukan tugas-tugas yang
Iebih luas dan lebih kompleks dengan peningkatan kemampuan untuk pekeijaan
yang dilakukan secara otonom. Supervisor melakukan pengecekan-pengecekan atas
penyelesaian pekerjaan.
|
3
|
Melakukan aktifitas-aktifitas
yang kompleks dan non-rutin, yang diatur sendiri dan bertanggung jawab atas
pekerjaan orang lain.
|
bab
4 Strategi
penyajian
A Rencana
Materi
Catatan: 1. Penyajian bahan, pengajar, peserta dan
penilai harus yakin dapat memenuhi seluruh rincian yang tertuang dalam standar
kompetensi.
2. Isi
perencanaan merupakan kaitan antara kriteria unjuk kerja dengan pokok-pokok
keterampilan dan pengetahuan .
Elemen
|
Jenis Variabel
|
Topik Pelatihan
|
Kegiatan
|
Tampilan
|
1.0 Memasang dan membuka perlengkapan las dan
pemotongan panas
|
1.1
Macam-macam
proses las dan pemotong dengan panas diidentifikasi dan sesuai dengan
berbagai aplikasi di industri.
1.2
Proses-proses
dan prosedur-prosedur pengelasan dan pemotongan yang sesuai dapat ditetapkan.
1.3
Kelengkapan dan peralatan dipilih secara benar dan
dipasang.
|
Proses Pengelasan :
- las oksi-asetilin (
OAW )
- las busur manual (
SMAW )
- las MIG/MAG ( GMAW )
- las TIG ( GTAW )
- las busur rendam (
SAW )
- las tahanan
- pemotongan dengan gas/ nyala api
- pemotongan dengan plasma
|
·
Penyajian
·
Tanya-jawab
·
Diskusi
·
Latihan
|
·
Handout
·
OHT
·
Lembar
tugas
·
Soal-soal
|
2.0 Mengoperasikan peralatan las oksi-asetilin ( OAW )
|
2.1
Seluruh prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja diamati.
2.2
Proses las oksi-asetilin dan pengaturan nyala api las
diuraikan.
2.3
Pemilihan bahan-bahan las dan proses pengelasan pada
pelat baja karbon posisi di bawah tangan dilakukan sesuai prosedur operasi
yang standar.
|
Las oksi-asetilin ( OAW
)
:
- peralatan
- proses kerja
- pengaturan nyala api
- penggunaan
- keselamatan dan
kesehatan kerja
- aplikasi pengelasan
pada posisi di bawah tangan
|
·
Penyajian
konsep
·
Tanya
jawab
·
Demonstrasi
·
Praktik
|
·
Handout
·
OHT
·
Jobsheet
|
3.0
Mengoperasikan peralatan pemotongan dengan panas
|
3.1
Seluruh prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja diamati.
3.2
Pengaruh pengaturan nyala api terhadap hasil pemotongan
diuraikan.
3.3
Pemotongan dengan gas/ nyala api pada baja
karbon dilakukan sesuai prosedur operasi
yang standar.
|
Pemotongan dengan gas/ nyala api:
- peralatan
- alat-alat bantu
pemotongan
- nozzle
- kesalahan-kesalahan pemotongan
- keselamatan dan
kesehatan kerja
- aplikasi :,memotong bentuk dan membuat bevel
|
·
Tanya
jawab
·
Demonstrasi
·
Praktik
|
·
Handout
·
OHT
·
Jobsheet
|
4.0 Mengoperasikan peralatan las busur manual (SMAW )
|
4.1
Seluruh prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja diamati.
4.2
Peralatan dan proses las busur manual diuraikan.
4.3
Berbagai
aplikasi las busur manual disebutkan.
4.4
Penabalan permukaan dan pengelasan sambungan sudut (Fillet)
pada baja karbon posisi di bawah tangan dilakukan sesuai
prosedur operasi yang standar.
|
Las Busur Manual
( SMAW )
- proses kerja
- peralatan
- penggunaan
- keselamatan dan kesehatan
kerja
- aplikasi pengelasan
pada posisi di bawah tangan
|
·
Tanya jawab
·
Diskusi
·
Demonstrasi
·
Praktik
|
·
Handout
·
OHT
·
Jobsheet
|
B Cara Mengajarkan Standar Kompetensi
Sesi ini menunjukkan hand-out, tugas / praktik dan transparansi yang cocok/sesuai dengan standar kompetensi.
Keterampilan, pengetahuan dan sikap seperti apakah yang saya inginkan
untuk dimiliki siswa.?
|
Bagaimana saya akan
menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada siswa?
|
1.1
Macam-macam
proses las dan pemotong dengan panas diidentifikasi dan sesuai dengan
berbagai aplikasi di industri.
|
Instruktor menerangkan
dan memberi tugas-tugas tentang proses las busur manual, las MIG, las oksi
asetlin, las TIG, Las Busur Rendam, Electro Slag Welding dan Las Titik.
HO 2 s.d 10 .
Tugas 1 & 2
OHT 1 s.d 9
Instruktor menerangkan dan memberi tugas-tugas tentang proses pemotongan
dengan gas/ nyala api dan plasma
HO 11 s.d 12 .
Tugas 1 & 2
OHT 10 s.d 11
|
1.2
Proses-proses
dan prosedur-prosedur pengelasan dan pemotongan yang sesuai dapat ditetapkan.
|
Instruktor menerangkan
tentang proses dan prosedur pengelasan dengan oksi asetilin dan las busur
manual, termasuk penyetelan nyala api las.
HO 24, 25, 27, 28, 29, 34 - 36 .
OHT 21
|
1.3
Kelengkapan dan peralatan dipilih secara benar dan
dipasang
|
Instruktor menerangkan dan memberi tugas-tugas tentang peralatan las oksi
asetilin, pemotongan dan las busur manual, termasuk pemasangannya secara
benar.
HO 13 s.d 24 & 26 .
OHT 12 s.d 15
OHT 19 s.d 20
|
2.1
Seluruh prosedur keselamatan dan kesehatan
kerja pada las oksi asetilin diamati.
|
Instruktor memberikan contoh-contoh penerapan dan peserta ditugasi untuk
menemukan contoh penerapan lain.
HO
14 s.d. 21
|
2.2
Proses las oksi-asetilin dan pengaturan nyala api las
diuraikan.
|
Instruktor memberikan contoh-contoh penerapan ( mendemonstrasikan ) dan
peserta ditugasi untuk melakukan/ berlatih melakukan pengaturan nyala api las
netral, oksidasi dan karburasi.
HO 24 - 25
Tugas 3
|
2.3
Pemilihan
bahan-bahan las dan proses pengelasan pada pelat baja karbon posisi di bawah
tangan dilakukan sesuai prosedur operasi yang standar.
|
Instruktor memberikan
penjelasan tentang penggunaan bahan las dan peserta melakukan/ berlatih
mengelas pelat baja karbon posisi di bawah tangan sesuai petunjuk pada
lembaran kerja
Tugas 3
|
3.1
Seluruh prosedur keselamatan dan kesehatan kerja pada pekerjaan
pemotongan dengan gas diamati.
|
Instruktor menjelaskan
tentang prosedur-prosedur keselamatan dan kesehatan kerja dan peserta
menerapkannya dalam kegiatan praktik.
Tugas 4
|
3.2
Pengaruh
pengaturan nyala api terhadap hasil pemotongan diuraikan.
|
Instruktor memberikan
contoh-contoh penerapan ( mendemonstrasikan ) dan peserta ditugasi untuk
melakukan/ berlatih penyalaan api potong sesuai dengan petunjuk dan
demonstrasi.
HO 27 s.d 29
OHT 16 & 17
Tugas 4
|
3.3
Pemotongan dengan gas/ nyala api pada baja karbon dilakukan sesuai prosedur operasi yang standar.
|
Instruktor memberikan
contoh-contoh penerapan ( mendemonstrasikan ) dan peserta ditugasi untuk
melakukan/ berlatih memotong lurus dan membuat bevel pelat baja karbon posisi
di bawah tangan dengan mengacu pada lembaran kerja.
Tugas 4
|
4.1
Seluruh prosedur keselamatan dan kesehatan kerja pada pengelasan
dengan las busur manual diamati.
|
Instruktor menjelaskan
tentang prosedur-prosedur keselamatan dan kesehatan kerja dan peserta
menerapkannya dalam kegiatan praktik.
Tugas 5
|
4.2
Peralatan dan proses las busur manual diuraikan.
|
Instruktor memberikan contoh-contoh
penerapan ( mendemonstrasikan ) dan peserta ditugasi untuk melakukan/
berlatih penyalaan dan pengaturan amper pengelasan sesuai dengan petunjuk dan
demonstrasi.
HO 30 s.d 36
OHT 18 s.d. 20
Tugas 5
|
4.3
Berbagai
aplikasi las busur manual disebutkan.
|
Instruktor memberikan
penjelasan tentang penggunaan las busur manual dan peserta menemutunjukkan
aplikasi lain dan mendiskusikan dengan peserta lain.
HO
32 s.d 33 .
|
4.4
Penebalan permukaan dan pengelasan sambungan sudut (Fillet)
pada baja karbon posisi di bawah tangan dilakukan sesuai prosedur operasi yang standar.
|
Instruktor memberikan
contoh-contoh penerapan ( mendemonstrasikan ) dan peserta ditugasi untuk
melakukan/ berlatih mengelas pelat baja karbon posisi di bawah tangan dengan
mengacu pada lembaran kerja.
Tugas 5
|
C Materi Pendukung untuk Pelatih
Materi pendukung bagi
guru dibagi dalam tiga hal, yaitu:
1. Lembar Informasi (Handout) : Merupakan pegangan peserta pelatihan yang berisi
materi/teori penunjang dan informasi yang sesuai dengan kriteria unjuk kerja
yang melingkupinya.
2. Tugas
: Merupakan latihan keterampilan praktik yang harus dicapai berkenaan
dengan kemampuan yang sesuai dengan rincian kompetensi pada deskripsi unit.
3. Transparansi (Overhead
Transparancy /OHT) : Isinya melingkupi setiap kriteria unjuk kerja yang
dilengkapi dengan pokok-pokok sajian dan/ atau gambar-gambar yang diperlukan
untuk penyampaian materi.
Lembar Informasi
|
HO 1
|
PENGELASAN DAN PEMOTONGAN DENGAN PANAS
( Welding and Thermal Cutting )
TLBM-001
Nama Peserta :
……………………
No. Identitas : ………..….............
HO 2
1. PENGENALAN PROSES-PROSES LAS DAN PEMOTONGAN
Las Busur Manual
Dalam proses
pengelasannya, las busur manual menggunakan elektroda yang berselaput,
elektroda berselaput ini berfungsi sebagai bahan pengisi dan memberi
perlindungan terhadap kontaminasi atmosfir. Operator las memegang penjepit
elektroda yang berisolasi dan menarik busur pada posisi dimana sambungan
dibuat. Penjepit/pemegang elektroda
menjepit ujung elektroda yang tidak berselaput untuk mengalirkan arus
listrik. Elektroda mencairkan logam
dasar dan membentuk terak las pada waktu yang bersamaan; ujung elektroda
mencair dan bercampur dengan bahan yang di las.
Dari
busur akan diperoleh :
·
Gas pelindung
·
Busur yang stabil
·
Pencegahan oksidasi dan unsur paduan
·
Bentuk permukaan las dan kehalusan
|
|
|
|
|

Gambar 1. Pemasangan Perlengkapan Las Busur Manual ( SMAW )
HO 3
|
|

Gambar 2.
Pengelasan dengan SMAW
Las busur
manual tidak seefisien jenis‑jenis las semi otomatis yang lain, karena
memerlukan waktu untuk mengganti elektroda dan harus membersihkan terak. Akan tetapi peralatan lebih murah, lebih
mudah mengoperasikan dan hanya memerlukan pemeliharaan sederhana.
Las busur
manual adalah baik untuk posisi pengelasan yang berbeda dan dapat digunakan di
bengkel atau di lapangan.
Las busur
manual banyak digunakan pada pekerjaan keteknikan, mulai dari yang ringan
sampai berat. Misalnya untuk saluran, bejana bertekanan dan rangka baja untuk
konstruksi bangunan serta industri alat berat dan perkapalan.
Las MIG/GMAW (Metal Inert Gas/Gas Metal Arc Welding)
Las MIG adalah proses
pengelasan yang energinya diperoleh dari busur listrik. Busur las terjadi diantara permukaan benda
kerja dengan ujung kawat elektroda yang keluar dari nozel bersama‑sama dengan
gas pelindung.
Las MIG biasanya semi
otomatis akan tetapi dapat dijadikan otomatis, pengoperasian otomatis menghemat
tenaga dan bahan. Hal yang penting
adalah memilih kawat las dan gas pelindung yang benar.
Dengan las MIG dapat
juga mengelas jenis‑jenis baja dan logam non ferro.
Proses las cair ini
menggunakan bahan, kawat las dan gas, dibandingkan dengan las busur manual las
MIG mempunyai kemampuan dan kecepatan yang lebih tinggi.
Panas yang tinggi dari
logam diperoleh dari busur, logam pengisi mencair dalam sambungan dan busur
listrik menyediakan panas yang cukup untuk memadukan permukaan. Gas pelindung melindungi cairan kawah las dari
kontaminasi oksigen dan nitrogen dari atmosfir.
Las MIG banyak
digunakan pada pekerjaan keteknikan mulai yang ringan sampai berat dan pada
industri kendaraan. Pemakaian di lapangan/ditempat terbuka dapat menghembus/menghilangkan
gas pelindung.
HO 4

Gambar 3. Mesin Las MIG/MAG ( GMAW )
Las Oksi‑ Asetilin (Oxy Acetylene
Welding/OAW)
Proses las oksi‑asetilin
menggunakan panas dari nyala api gas untuk memadukan atau menempelkan bagian‑bagian
yang akan disambung menjadi satu.
Pembakaran campuran oksigen
dan asetilin menghasilkan nyala api gas atau disebut juga nyala api las.
Las oksi asetilin adalah suatu
keterampilan manual yang diperlukan untuk praktik. las ini dapat dilakukan
dengan atau tanpa bahan tambah/pengisi dan dapat digunakan untuk bahan mulai
dari yang tipis sampai dengan ketebalan yang sedang.
Peralatan las oksi asetilin
pada umumnya murah dan dapat dipindahkan dengan mudah di tempat pengelasan,
brazing dan pemanasan yang diperlukan, akan tetapi proses ini lama/lambat dan
kadang‑kadang dapat menyebabkan distorsi yang lebih besar dalam bahan yang di
las sebab memerlukan pemanasan lebih lama.
Dengan las oksi asetilin tidak
dapat mengelas bahan yang lebih tebal secara ekonomis.
Las oksi asetilin banyak
digunakan pada pekerjaan keteknikan dan fabrikasi ringan serta industri
kendaraan.
HO 5


Gambar 4.
Proses Las Oksi Asetilin
|

Gambar 5. Posisi Tip dan Bahan Tambah
Las TIG/GTAW (Tungsten Inert Gas/Gas
Tungsten Arc Welding)
Las TIG adalah proses las
cair. Teknik pengelasannya sama dengan
las oksi asetilin, akan tetapi panas pengelasan dihasilkan oleh busur listrik
diantara elektroda tungsten dan permukaan benda kerja.
Elektroda tungsten mempunyai
titik cair yang sangat tinggi (kurang lebih 3400 drajat C) dan boleh dikatakan
tidak habis apabila digunakan dengan kapasitas/arus yang benar dan tidak
menyentuh benda kerja selama mengelas.
Gas Argon adalah gas yang
paling banyak digunakan sebagai media pelindung untuk melindungi logam las dari
kontaminasi nitrogen dan oksigen di atmosfir.
Istilah‑istilah yang digunakan
dalam proses las GTAW adalah :
Tungsten : Elektroda
yang mengalirkan arus listrik.
Inert Gas : Gas
yang secara kimia tidak akan bercampur dengan unsur lain dan pelindung kawah
cairan dan busur las.
Arc : Pengelasan lebih cenderung dilaksanakan oleh busur
listrik dari pada kombinasi/campuran gas‑gas.
Proses las GTAW utamanya
digunakan dalam fabrikasi ringan, sedang dan keteknikan umum. Las ini digunakan hampir semua logam untuk
kualitas/standar yang tinggi dan terutama untuk baja tahan karat, alumunium dan
logam non ferro lainnya
HO 6
|
|
|
|
|
|

Gambar 6.
Proses GTAW

Gambar 7. Pemasangan Peralatan GTAW
HO 7
|
Las Busur Rendam (Submerged Arc Welding/SAW)
|

|
|
|
|
|
|
|

|

Gambar
8. Las Busur Rendam ( SAW )
Proses Las Busur Rendam :
|
Proses las busur rendam menggunakan elektroda kawat logam ( rol ). Busur dilindungi oleh fluksi yang diarahkan
secara terpisah, sebagian dari fluksi ini mencair dan membentuk terak menutupi
logam las. Selama proses pengelasan
elektroda kawat logam masuk dan mengalir secara otomatis dalam saluran
fluksi. Gerakan/kecepatan dari mesin
diatur sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Arus bolak‑balik (AC) atau arus
searah (DC) dapat digunakan untuk proses ini.


Gambar 9.
Proses Las Busur Rendam
Panas dari busur
mencairkan dan memadukan bahan tambah dan logam dasar. Busur dilindungi dari kontaminasi udara luar
(atmosfir) oleh lapisan fluksi yang juga melindungi percikan las, suara busur
dan asap las.
HO 8
Kecepatan dari proses
membantu menjaga distorsi yang minimal (kecil).
Kelebihan fluksi pada permukaan las yang belum menjadi terak dapat
diambil dan digunakan lagi.
Kemampuan
dan Ruang Lingkup Pekerjaan :
Proses las busur rendam
menghasilkan las yang memiliki kekuatan tarik yang tinggi. Proses ini digunakan untuk mengelas baja
karbon rendah, paduan rendah, kekuatan tinggi dan baja tahan karat.
Las busur rendam
digunakan untuk membuat pipa, bejana bertekanan, ketel, rel, tangki dan kerangka
lain yang memerlukan pengelasan lurus dan kontinyu.
Las busur rendam
umumnya digunakan dalam industri logam berat, karena proses ini memberikan las
kualitas tinggi dan memberikan asap las yang minim dan busur lasnya tidak
tampak dan peralatan mudah dioperasikan.
Electro Slag Consumable Guide Welding


Gambar
10. Electro Slag Welding
Proses :
Electro slag welding
menggunakan metoda pengelasan arah tunggal vertikal (tegak) secara otomatis,
kawat las, pengarah dan fluksi ditempatkan di tengah diantara pelat yang
berjarak 25 mm.
HO 9
Kawat elektroda bergerak turun
ditengah tabung pengarah secara kontinyu.
Tabung pengarah, kawat pengisi dan logam dasar dicairkan oleh panas dari
kawah. Terak las terbentuk di bawah
kawah ini. Cairan kawah las dan cairan
terak tertutup oleh sepatu tembaga yang dilengkapi dengan air pendingin.
Peralatan
:
a.
Sumber tenaga DC dengan rentang arus
350 Amp sampai dengan 750 Ampere.
b.
Unit kawat pengisi
c.
Pengarah
d.
Sepatu tembaga dengan air pendingin
e.
Fluksi
Persiapan Pelat :
Sedikit persiapan
diperlukan kecuali untuk pemotongan dengan oksigen, sambungan tumpul kampuh I
terbuka.
Gap diperlukan untuk
pelat dengan tebal yang bervariasi, umumnya 25 mm. Tebal bahan dan 20 mm sampai dengan 75 mm
dapat di las dengan satu tabung pengarah dan tebal tidak terbatas untuk tabung
pengarah yang banyak.
Las Tahanan ( Resistance Welding )
Las
Titik :
Proses las titik
menggunakan panas yang dihasilkan dari tahanan yang mengalirkan arus listrik
melalui logam yang disambung.
Mesin las titik
menghasilkan lingkaran las kecil yang dikenal sebagai titik lasan, untuk
menyambung dua bagian logam yang menumpang, logam yang di las diklem bersama
diantara dua elektroda tembaga paduan dan arus dialirkan diantara elektroda‑elektroda,
logam‑ logam dipanaskan pada pertemuannya oleh arus dan disambung oleh tekanan
kedua elektroda.
Mesin las titik dengan
kapasitas yang besar ( pedestal ) adalah berat dan tidak portable, mesin las
yang lebih kecil sering dipasang pada meja.
Dalam pengerjaannya kedua bahan yang akan disambung harus dibawa
ketempat dua jenis mesin las tersebut.
Las titik mungkin juga
memakai pistol las yang dapat dibawa dengan mudah. Pistol las digunakan dalam pembuatan bodi
otomotif.
Las titik dapat
digunakan untuk bahan yang tebalnya dari 0,025 mm sampai dengan 10 mm, akan
tetapi pada umumnya las titik banyak digunakan untuk menyambung bahan yang
tebalnya kurang dari 6 mm.
|
HO 10
|
|
|

Gambar 11.
Proses Las Titik
|

Gambar 12. Mesin
Las Titik
Pemotongan dengan
Gas
Proses pemotongan menggunakan
campuran oksigen dan bahan bakar gas berhubungan dengan reaksi kimia. Reaksi ini terjadi ketika baja atau besi
dipanaskan kemudian berhubungan dengan oksigen murni. Reaksi ini dinamakan oksidasi. Apabila baja dipanaskan sampai 815 derajar C
akan berubah warna menjadi merah terang.
Oksigen disemburkan dengan tekanan tinggi pada logam dan terjadilah
pemotongan akibat oksidasi.
Aliran dan tekanan oksigen dan
terbakarnya logam oleh bahan bahan bakar gas membuat terjadinya pemotongan.
Proses
pemotongan tergantung dari :
·
Pemanasan baja sampai temperatur pembakaran
HO 11
·
Oksidasi baja dalam bagian semburan oksigen
·
Pembuangan terak oleh tekanan dari aliran oksigen
·
Kontinuitas gerakan pembakar
|
|
|
|
|

Gambar 13. Proses
Pemotongan
Fungsi Nyala Potong Gas
:
Nyala potong/pemanasan awal
hanya memanaskan permukaan logam dengan kedalaman beberapa mili meter.
Tujuan dari nyala pemanasan
awal adalah untuk menjaga permukaan logam pada temperatur yang dibutuhkan (815
derajat C). Sisa tebal bahan yang lain
dipanaskan oleh pembakaran logam dan oksigen.
Tidak cukup panas untuk
terjadinya reaksi tanpa nyala pemanasan awal, sebab disekitar logam dan oksigen
potong terdapat pengaruh pendinginan.
Keberhasilan memotong dengan
nyala gas potong tergantung dari dua kondisi berikut :
·
Temperatur pembakaran logam harus
dibawah temperatur titik cairnya.
·
Oksida yang terbentuk harus
mencair pada temperatur lebih rendah dari pada titik cair logam dasar.
Faktor‑faktor yang mempengaruhi kualitas pemotongan :
·
Kebersihan permukaan pelat
·
Ukuran mata potong (nozzle)
yang digunakan
·
Kebersihan nosel yang digunakan
·
Tekanan oksigen
·
Jumlah pemanasan awal
Pemotongan dengan Plasma ( Plasma Cutting).
Proses pemotongan plasma lebih
serbaguna dari pada proses pemotongan dengan gas.
Pemotongan dengan plasma dapat
memotong logam ferro dan non ferro, dalam prosesnya cenderung
menggunakan arus listrik untuk ionisasi gas dari pada nyala api gas dan oksigen
untuk mengoksidasi logam.
HO 12
Proses Busur Plasma
:
Dalam pembakar plasma,
busur listrik dibuat oleh :
·
Elektroda tungsten dan nozzle pembakar, atau
·
Elektroda tungsten dan permukaan benda kerja

Gambar 14. Peralatan Pemotong Plasma
Logam yang Dapat Dipotong :
Pemotongan dengan oksi‑asetilin
adalah proses kimia untuk memotong baja.
Kita perlu mempelajari metoda lain untuk memotong bahan‑bahan non ferro.
Pemotongan dengan plasma
adalah proses pemotongan panas yang dapat digunakan pada semua logam yang dapat
dicairkan oleh panas busur plasma.
Beberapa dari logam ini adalah baja tahan karat, aluminium, besi tuang,
baja‑baja paduan dan baja karbon rendah.
Pemotongan dengan plasma digunakan untuk berbagai bentuk yang meliputi
pemotongan lurus, miring dan profil.
Industri berat dan ringan
menggunakan proses pemotongan plasma.
Mesin ini ada yang dioperasikan dengan tangan (secara manual),
sepenuhnya dengan mesin dan ada juga yang dikontrol dengan komputer.
HO 13
2. PENGOPERASIAN PERALATAN LAS OKSI ASETILIN
Penggunaan Las Oksi Asetilin
Las Oksi Asetilin
digunakan untuk :
a. Industri fabrikasi ringan, misal :
- Rangka kursi
- Komponen dari logam
tipis
b. Perbaikan/reklamasi
bagian-bagian dapat dilaksanakannn dengan proses ini, misalnya :
- Tuangan
- Komponen-komponen
ringan
- Panel bodi
otomotif/saluran hisap
c. Penggunaan di lapangan,
karena portabilitasnya yang tinggi sehingga sering digunakan di lapangan untuk
memperbaiki kerangka ringan dan permesinan.
Peralatan Las Oksi Asetilin
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Gambar
15. Peralatan Las Oksi Asetilin
1. Silinder Gas
Ukuran-ukuran
silinder oksigen dan asetilin bermacam-macam, tergantung kebutuhan pekerjaan,
namun yang umum dipakai adalah mulai dari 3500 liter, 5000 liter, 6000 liter
dan 7000 liter.
HO 14
|
|
Adapun standar warna silinder oksigen
biasanya adalah hitam dan silinder asetilin adalah merah, namun
ada juga negara atau fabrik tertentu membuat standar warna tersendiri.
|
|
|

Gambar
16. Silinder Oksigen
![]() |

Gambar 17. Silinder Asetilin
Keselamatan Kerja untuk Silinder
Oksigen
Oksigen itu sendiri tidak dapat menyala dan meledak. Walaupun demikian
oksigen akan menyebabkan bahan terbakar dengan tidak terkehendaki.
Secara umum hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menangani oksigen
adalah :
HO 15
·
Jangan
mengoperasikan alat pneumatik dengan oksigen.
·
Jangan
menggunakan oksigen untuk pengecatan dengan spray.
·
Jangan
menggunakan oksigen sebagai pengganti udara yang dimanfaatkan.
·
Jangan
menghembus pipa, bejana atau tangki dengan oksigen
·
Jangan
menggunakan oksigen untuk penyegaran udara, membersihkan asap dalam ruang
tertentu atau mendinginkan diri Anda pada cuaca yang panas
Untuk hal tersebut, maka
silinder oksigen harus ditangani secara baik, agar tidak menimbulkan
bahaya-bahaya yang tidak diingini.
Adapun
teknik-teknik penanganan silinder oksigen adalah sebagai berikut :
|
·
Tangani
silinder-silinder dengan hati-hati, tidak boleh terbentur, kena nyala api
maupun benda panas.
·
Silinder-silinder
harus selalu dalam keadaan tegak dan terikat dengan baik agar tidak jatuh.
·
Apabila
silinder tidak memungkan berdiri tegak dapat juga direbahkan, tetapi
manometer harus disebelah atas
|
|||
![]() |
·
Panas
matahari tidak boleh langsung memanasi silinder, maka silinder dapat
dilindungi dengan papan
·
Silinder-silinder
tidak boleh tergeletak tanpa ganjal yang baik
|
HO 16
Keselamatan Kerja untuk Silinder
Asetilin
·
Jangan mencoba memindahkan
asetilin dari satu silinder ke silinder yang lain.
·
Asetilin
dilarutkan dalam cairan aseton didalam silinder.
·
Selalu
tinggalkan kunci silinder pada slinder apabila sedang digunakan
·
Sumbat
pengaman silinder mencair pada 100° C, simpan silinder pada tempat dingin,
ventilasi yang baik dan tempat yang terlindung
Las oksi asetilin adalah cukup aman bila Anda menggunakan peralatan yang
wajar dan bekerja sesuai dengan prosedur.
Adapun
teknik-teknik penanganan silinder asetilin adalah sebagai berikut :
|
·
Simpan
silinder-silinder asetilin ditempat yang dingin, jauh dari panas maupun terik
matahari
·
Jangan dicampurkan dengan
silinder-silinder oksigen
·
Nyala
lampu gudang penyimpanan harus redup
·
Dilarang
merokok / menyalakan api didekat silinder-silinder asetilin
·
Pisahkan
silinder-silinder yang kosong dan yang penuh
·
Bersihkan
tempat kerja dari segala kotoran, bebas dari bahan yang mudah terbakar, dan
tidak licin
|
|||
![]() |
·
Didalam
memindahkan siilinder-silinder memerlukan penanganan yang teliti.
·
Hindari silinder-silinder
dari terjatuh maupun terbentur secara keras.
HO 17
·
Jangan
berdiri didepan manometer ketika membuka katup silinder
·
Hindarkan
pemakaian regulator yang rusak.
·
Tutup
katup silinder bila tidak dipergunakan . Jika terjadi gas bocor ketika katup
ditutup :
PERHATIAN :
Gas
asetilin dan bahan gas lainnya sangat mudah terbakar bila bercampur dengan
oksigen atau udara. Kebocoran berarti mengundang bahaya kebakaran.
|
2. Regulator
Regulator atau alat pengatur tekanan berfungsi untuk :
- Mengetahui tekanan isi silinder,
- Menurunkan tekanan isi menjadi
tekanan kerja,
- Mengetahui tekanan kerja,
- Menjaga tekanan kerja agar tetap (konstan) meskipun tekanan isi
berubah-ubah,
- Mengamankan silinder, apabila terjadi
nyala balik.
Pada regulator terdapat dua buah alat
penunjuk tekanan atau biasa disebut
manometer, yaitu manometer tekanan isi silinder dan manometer
tekanan kerja. Manometer
tekanan isi mempunyai skala lebih besar bila dibandingkan dengan manometer
tekanan kerja.
HO 18
Perbedaan antara regulator asetilin dan
regulator oksigen yang paling utama adalah :
a. Regulator asetilin berulir
kiri
Pada waktu
mengikat , putaran ulirnya ke arah kiri atau berlawanan dengan arah jarum jam,
sedangkan untuk membuka diputar kearah kanan atau searah dengan jarum jam.
b. Regulator oksigen berulir
kanan
Pada waktu
mengikat putaran ulirnya kearah kanan atau searah dengan jarum jam, sedangkan
untuk membuka diputar kearah kiri atau berlawanan dengan arah jarum jam.
c. Warna bak manometer
Regulator oksigen : terdapat
tulisan oksigen, warna bak biru / hitam /abu-abu.
Regulator asetilin : terdapat tulisan asetilin, warna bak merah.
|

Gambar 18. Regulator
Oksigen dan Asetilin
Keselamatan Kerja untuk Regulator
- Jangan sekali-kali mencoba memperbaiki regulator jika tidak
pernah dilatih untuk itu,karena pengerjaan yang tidak benardapat
menyebabkan resiko yang tidak diinginkan
- Jangan mengoleskan oli atau grease pada regulator
- Jangan menangani regulator dengan
menggunakan sarung tangan, kain atau tangan yang beroli.
- Jika pada manometer, tiba-tiba
tekanannya naik saat katup pada pembakar (blowpipe) tertutup, maka
segera tutuplah katup tabung dan segera perbaiki regulatornya. Walaupun
tidak begitu berbahaya, tetapi dapat menyebabkan hasil pengelasan yang
kurang baik.
- Sebelum membuka katup silinder
kendorkan selalu tombol penyetel regulator sampai putaran penuh. Kenaikan
tekanan secara mendadak di dalam regulator yang tombol penyetelnya diputar
ke dalam akan menimbulkan tegangan pada mekanisme alat dan menyebabkan kerusakan.
HO 19
3. Slang Las
|
|||
|
|||
Gambar.19 Slang Las
Fungsi Slang Las
Fungsi slang las adalah untuk mengalirkan gas dari silinder ke pembakar.
Bahan Slang Las
Slang las dibuat dari karet yang
berlapis-lapis dan diperkuat oleh serat-serat bahan tahan panas.
Sifat Slang Las
Slang las harus mempunyai sifat :
- Kuat
: Slang asetilin harus tahan tekanan 10 Kg / cm2, slang
oksigen harus tahan terhadap tekanan 20 Kg / cm2
- Tahan api / panas
- Lemas / tidak kaku / fleksibel
Slang oksigen berwarna hitam/biru/hijau, sedang slang asetilin
berwarna merah.
Adapun
teknik-teknik penanganan slang las adalah sebagai berikut :
Keselamatan Kerja untuk Slang Las
|
·
Hindarkan
pemakaian slang yang panjang (disarankan panjang slang yang dipakai antara 4
sampai 6 meter). Slang panjang cenderung tertekuk
atau terpilin.
·
Jika harus menggunakan slang
panjang, Pastikan bahwa semua sambungan kencang, dan pastikan bahwa slang
terhindar dari kemungkinan terinjak,tertabrak,tertekuk atau tepilin.
·
Hindarkan
slang agar tidak tergencet, terpilin atau tertekuk.
HO 20
·
Jaga slang dari permukaan
kasar, tepi-tepi tajam ataupun logam panas.
·
Hindarkan
slang melintang di jalan dan gilasan gerobak.
|
||||||||||||
![]() |
·
Pada
pemasangan slang baru, tiuplah slang sebentar dengan menggunakan gas dari
silinder, maksudnya agar saluran slang betul-betul bersih
·
Jangan
lupa sewaktu memasang slang, pastikan bahwa slang tidak diletakan pada tempat
yang mungkin terinjak atau tertabrak/ tergilas oleh roda silinder.
|
||||||||||||
4. Pembakar
( Torch) dan Tip Las

Gambar.20
Pembakar Las

Gambar.21 Tip Las
Langganan:
Komentar (Atom)












